Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMA Pesat School Of Talent)

Pulang kampung atau mudik memang tradisi masyarakat Indonesia yang luar biasa, tidak ada di negara lain. Mudik juga dilakukan oleh masyarakat non muslim, ini menggambarkan betapa dahsyatnya budaya mudik di Indonesia.

Baca Juga : PROKES DAN PROTOKOL KEAGAMAAN UNTUK MELAWAN COVID 19

Perjuangan seorang untuk mudik luar biasa juga, setahun menabung dari bekerja atau usaha untuk beaya mudik, jika perlu ngutang sana-sini. Lo kan dapat THR, THRnya habis bro untuk beli baju, kue lebaran, angpau saudara dan orang tua serta menutup kenaikan tiket yang mencapai 50 %. Pokoknya saking top markotopnya mudik ini, karena rasa kangen yang memuncak untuk bertemu saudara di kampung, segala daya dan upaya dilakukan.

Dan untuk kalangan jet set, mudik dipakai sebagai sarana pamer kemewahan, mobil mewah, barang mewah, perhiasan berlian, gaya hidup mewah baik makanan maupun minuman dan pamer pangkat, kedudukan serta status sosial.

Tapi karena adanya Covid-19 dan adanya larangan mudik dari pemerintah, keinginan masyarakat Indonesia untuk mudik jadi ambyar.

Baca Juga : PUASA RAMADHAN SEBAGAI OLIMPIADENYA MUSLIM

Larangan mudik 2021 diterbitkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dan memutus rantai penularan Covid-19. Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menuturkan aturan ini diterbitkan karena hasil survei itu memperlihatkan masih ada sejumlah masyarakat yang tetap mudik sebelum dan sesudah larangan mudik.

Ok jangan sedih bro, tidak jadi mudik, semua takdir Allah itu ada hikmahnya. Apa hikmahnya? Bukankah kampung halaman kita di dunia itu hanya sementara, kampung asli kita itu ya kampung akhirat yaitu surga. Bukankah nenek moyang kita Nabi Adam, kampung halamannya di surga! Beliau dan Siti Hawa melanggar aturan dari Allah, lalu diturunkan ke dunia.

Maka ayo tetap semangat, meski tahun ini kita tidak bisa mudik, tapi masih ada yang bisa kita lakukan, yaitu mempersiapkan pulang ke kampung akhirat yang abadi yaitu surga. Jika kita gas pol untuk persiapan pulang ke kampung halaman, maka untuk persiapan pulang ke kampung akhirat harusnya juga gas pol.

Baca Juga : PEMIMPIN KAYA DAN BERILMU ITU BARU HEBAT

Ya mulai sekarang kita bisa mempersiapkan pulang ke kampung akhirat (mati), seperti yang sudah dikerjakan orang soleh dengan:
Kita mulai membayangkan dan merenung, dimana kita mati, apa husnul khotimah atau suul khotimah, siapa nanti yang memandikan dan yang menyolati mayat kita, siapa yang mengangkat keranda kita, dan lain-lain.

Selanjutnya kita buat surat wasiat, jika perlu pesan batu nisan yang bertuliskan nama kita dengan tempat tanggal lahir tapi tulisan wafatnya dikosongkan. Bisa juga untuk orang kaya menyiapkan makam pribadi.

Atau meniru almarhum Ustadz K.H. Muhammad Arifin Ilham yang memakai surbannya adalah calon kain kafannya. Beliau juga berkata,”Jadwal kematian kita bukan menjauh, tapi semakin semakin mendekat,” ujarnya.

Baca Juga : Pemimpin Kaya dan Berilmu itu Baru Hebat

Umar ibn Khattab, pernah berkata, ”Bersama sepuluh orang, aku menemui Nabi Muhammad SAW lalu salah seorang di antara kami bertanya, ‘Siapa orang paling cerdas dan mulia wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat’.” (HR. Ibnu Majah).

Siap tidak siap, kita harus siap menghadapi jadwal kematian kita, maka kematian adalah nasihat yang paling baik, bagi kita yang masih hidup. Semoga kita bisa mempersiapkan kematian ini dengan baik dan husnul khotimah, aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)