Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMA Pesat School Of Talent)

Apa maksud dari penumpang gelap puasa ramadhan? Seperti judul opini di atas. Ternyata penumpang gelap puasa ramdhan adalah hal yang sia-sia kita lakukan saat melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Atau kegiatan yang kita lakukan saat puasa ramadhan yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Baiklah penulis akan bahas apa saja penumpang gelap puasa ramadhan:

Baca Juga : VISIPENDIDIKAN INDONESIA 2035 BERTENTANGAN DENGAN UUD 45

Seminggu setelah ramadhan penumpang gelap ramadhan adalah malas, ini dapat dilihat dari berkurangnya jumlah jamaah shalat terawih. Yang pada awal ramadhan masjid dan musholla penuh jamaah shalat terawih, sekarang tinggal setengahnya atau bahkan 2 atau 3 shaf.

Penumpang gelap ramadhan selanjutnya adalah tradisi ngabuburit untuk menunggu datangnya bedug magrib. Ngabuburit ini bisa sekedar jalan-jalan sore, atau ada yang mengadakan balapan liar khususnya anak muda, sayang kan waktu kok diisi dengan kegiatan yang sia-sia, percuma kan.

Ada yang lebih parah bro, ngabuburit diisi dengan pacaran, biasa modus alasannya hanya nganter doi beli takjil, astaghfirullah. Pacarannya libur dulu atau tegas putus pacarannya, karena pacaran itu haram, nikah dulu baru pacaran ini yang benar.

Baca Juga : ISRA’ MI’RAJ SEBAGAI SPIRIT UNTUK KEBERKAHAN NKRI

Padahal sejarah aslinya ngabuburit bagi masyarakat Sunda itu menunggu datangnya bedug magrib dengan diisi kegiatan tadarus Al Qur’an, ‘Itikaf di masjid, mendengar tausyiah dari para Ustadz dan kegiatan amal soleh yang lain.

Tapi dalam perkembangannya ngabuburit berubah dan salah arah seperti sekarang ini. Bahkan sebelum adanya pandemi Covid 19 ngabuburit diisi dengan acara konser musik rock dan pop. Diantaranya ada acara konser musik dengan titel “Ngabuburit Bersama Slank dan Gigi” group band yang sangat terkenal dan digandrungi kaum milenial di Indonesia.

Sahur On The Road (SOTR) adalah penumpang gelap ramadhan selanjutnya. Maksud dan tujuan SOTR adalah baik adanya, tapi dalam prakteknya pelaksanaan SOTR ini banyak mengganggu kenyamanan dan ketenangan masyarakat yang sedang melaksanakan ibadah puasa ramadhan ini.

Apalagi jika sewaktu SOTR bertemu dengan geng motor brutal sehingga bisa menimbulkan tawuran yang tidak kita inginkan. Apakah tidak lebih baik jika SOTR ini dilaksanakan di masjid atau musholla sambil shalat tahajud ataupun kegiatan positif yang lain.

Baca Juga : JOKOWIMERASA LEBIH BAIK DARI SOEKARNO DAN SOEHARTO

Kemudian penumpang gelap ramadhan selanjutnya adalah sibuk mempersiapkan lebaran dan mudik. Untuk mempersiapkan semua ini, masyarakat terlihat gaspol, semua cara dilakukan untuk bisa beli baju baru, kue lebaran, menyalakan petasan dan kembang api serta bisa mudik (pulang kampung) untuk berjumpa dengan saudara tercinta.

Ini semua baik untuk menyambut dan menghormati tamu yang akan datang pada lebaran di rumah kita, sekaligus merayakan kemenangan kita setelah sukses melaksanakan puasa ramadhan selama satu bulan. Mudik juga baik yaitu sarana silaturahmi setahun sekali bertemu dengan saudara di kampung.

Tapi ingat Islam menganjurkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan (ghuluw) dalam setiap tindakannya. Berlebih-lebihan merupakan sikap tercela karena tidak akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, juga buruk di mata orang lain.

Baca Juga : Pemimpin Kaya dan Berilmu itu Baru Hebat

Larangan berlebihan ini tidak hanya dalam konteks duniawi, tetapi juga akhirat. Peringatan lain tertuang dalam Surat Al-Araf ayat 31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Maka ada hikmahnya, jika tahun ini kita masih menjadi penumpang gelap puasa ramadhan, usahakan puasa tahun depan, jika umur kita panjang, kita sudah tidak menjadi penumpang gelap puasa ramadhan. Sehingga kita menjadi hamba yang bertaqwa, Aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)