Oleh : Heru B Setyawan (Guru SMA Pesat School Of Talent)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2021, dihiasi dengan kesuraman pendidikan peserta didik yang tak mendapat haknya secara maksimal selama pandemi Covid 19. Hal ini merupakan pendapat dari Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji.

Baca Juga : PULANG KE KAMPUNG SIAP PULANG KE KAMPUNG AKHIRAT BELUM SIAP

Indra memberi raport merah pada Mas Nadiem yang Kementeriannya berubah menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbud-ristek). Inila raport merah Mas Nadiem:

1. Mas Nadiem gagal menerapkan PJJ. Sebab, tidak ada upaya membenahi PJJ meski telah berlangsung sekitar satu tahun. Saya pribadi bisa membuktikan kalau PJJ bisa efektif, tapi ya tentu caranya enggak seperti dulu, dengan cara ceramah, ngasih PR, ulangan. Sudah enggak gitu lagi.

2. Mas Nadiem memimpin Kemendikbud yang ada adalah kegaduhan demi kegaduhan. Kegaduhan itu timbul karena kebijakan yang dibuat Mas Nadiem tanpa adanya riset atau kajian akademis. Bahkan menurutnya, tidak ada pelibatan publik di setiap kebijakan itu.

Baca Juga : PROKES DAN PROTOKOL KEAGAMAAN UNTUK MELAWAN COVID 19

3. Mas Nadiem yang kerap membuat kebijakan tanpa riset tapi malah kembali diangkat dengan kewenangan yang bertambah, yakni mengurusi riset teknologi, sehingga beliau sekarang menjadi Mendikbud-ristek. Padahal sebelumnya santer jika beliau mau direshuffle oleh Presiden Jokowi.

4. Mas Nadiem yang ditugaskan membangun SDM tidak percaya kalau SDM dibangun, coba kita lihat eselon I beliau orang luar semua bukan orang dari dalam Kemendikbud sendiri.

Menurut penulis apa yang dikatakan Indra Charismiadji benar adanya. Tapi Mas Nadiem juga ada prestasinya, menurut penulis prestasi dari Mas Nadiem selama menjadi Mendikbud adalah:

1. Empat upaya perbaikan terus kami kerjakan bersama berbagai elemen masyarakat. Pertama, perbaikan pada infrastruktur dan teknologi. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan. Ketiga, perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. Keempat, perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen.

Baca Juga : PUASA RAMADHAN SEBAGAI OLIMPIADENYA MUSLIM

Dari keempat hal di atas yang sangat berguna adalah pendanaan, yaitu BOS bisa digunakan untuk dampak pandemi Covid 19.

Juga pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan, ini sangat membantu satuan pendidikan untuk berinovasi dalam Proses Pembelajaran serta meringankan Guru dalam membuat administrasi Guru.

2. Kemendikbud dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berkolaborasi untuk memperluas ruang lingkup dan sasaran untuk program-program yang dilakukan oleh LPDP.

Hal ini dimaksudkan agar Indonesia memiliki SDM yang memiliki kompetensi global dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, sebagaimana tertuang dalam profil Pelajar Pancasila, sehingga mampu menghadapi perubahan teknologi, sosial, dan lingkungan yang sedang terjadi secara global.

Rupanya Mas Nadiem ingin menjawab dengan wacana akan dihapusnya Mata Kuliah Dasar Bahasa Indonesia dan Pancasila di perguruan tinggi, yang beberapa lalu sempat bikin gaduh.

Baca Juga : PEMIMPIN KAYA DAN BERILMU ITU BARU HEBAT

Mas Nadiem menerangkan, akan dilakukan penambahan variasi serta perluasan sasaran program hingga mencakup guru dan tenaga pendidikan, serta pelaku budaya di Tanah Air yang menjadi ujung tombak dalam memajukan dan menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Di Tahun 2021 terdapat enam jenis program baru, meliputi Kampus Merdeka, Program Dosen dan Tenaga Kependidikan, Program Guru dan Tenaga Kependidikan, Program Vokasi, Program Prestasi, dan Program Kebudayaan.

Baca Juga : Pemimpin Kaya dan Berilmu itu Baru Hebat

Baik kita pantau dan kawal terus program-program dari Mas Nadiem ini agar berhasil dan tidak menimbulkan kegaduhan lagi. Apalagi sekarang beliau dapat tambahan tugas ristek . Sehingga beliau sekarang menjadi Mendikbud-ristek. Selamat Hardiknas 2021 semoga semakin maju pendidikan di Indonesia. Jayalah Indonesiaku. (*)