
“Dari bridging itu targetnya tumbuh tapi pendapatannya belum cukup. Saya berfikir harus kemana lagi ekspansinya akhirnya saya mendapatkan setelah baca dan riset referensi untuk mulai di kambing perah lalu saya fokuskan untuk jenisnya itu jenis kambing Etawa,”katanya.
Fuad beralasan memilih kambing etawa lantaran kasta hewan kambing yang paling tertinggi. Meski etawa hanya memproduksi susu hanya sedikit, tapi nilai gizi, rasa dan kualitas sangat tinggi akan tetapi harga jualnya cukup tinggi.
Menurutnya, konsep peternakan yang ia kelola saat ini mulai mengadopsi beberapa sistem, seperti Fattening (menggemukan), Fidding (makanan), dan sistem milking (pemerahan) terlebih saat dihadapi kondisi Pandemi Covid-19, target sistem milking selalu mencapai target setiap tahunnya.
“Jika dari segi kandungan gizi dari hasil susu kambing dan sapi, kambing paling tinggi dan menempatkan posisi pengganti Air Susu Ibu (ASI) terbaik untuk balita,” ucapnya.
Dengan demikian, Fuad mengaku kewalahan karena permintaan pasar terus meningkat. Dalam sehari, kata Fuad bisa menghasilkan 30 liter dengan harga jual Rp 40 ribu per liternya sedangkan untuk kemasan botol berukuran 250 mililiter Fuad menjual hanya Rp10 ribu yang ia pasarkan ke wilayah di Jabodetabek, Serang hingga Bandung.
“Kewalahan, peningkatan penjualan bisa mencapai tiga kali lipat. Dulu saya masukin produk ke toko dan reseler. Sekarang Alhamdulillah orang-orang pada dateng sendiri kesini.” Akunya.
Maka dari itu, jika pengelolaan dasar seperti perawatan dan manajemen pakan, kandang dan produksinya baik, kambing perah itu dapat menjadi bisnis ATM berjalan .
“Duit berdatangan sendiri dari hasil kambing perah itu, tapi harus ditunjang dengan beberapa sektor dan kualitas gizinya harus dijaga, kalau itu enggak dijaga ya berantakan,” pungkasnya. (Aditya)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















