BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Nasib jalur puncak II atau poros tengah timur hingga saat ini masih tidak jelas, padahal banyak pihak mendorong pembangunan jalan alternatif untuk mengurai kemacetan menuju Puncak Bogor, Jawa Barat ini. Salah satunya pemerintah daerah yang sudah melakukan betonisasi di simpang Sentul Kabupaten Bogor dengan mengalokasikan anggaran Rp5 miliar untuk pembukaan jalan.
Tak ingin terus berlarut-larut, berbagai usulan pun bermunculan. Diantaranya, anggota DPR RI Komisi V Mulyadi dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.
Mulyadi mengusulkan pembangunan fly over, bundaran, dan underpass. Pembangunan itu menurutnya dilihat dari lima titik kemacetan.
“Ada lima titik kemacetan yang berat disana, sehingga saya mengusulkan pembangunan fly over, bundaran, dan underpass,” kata Mulyadi kepada cnbcindonesia.com beberapa waktu lalu.
Sedangkan Sandiaga Uno mengusulkan membangun kereta gantung atau cable car. Kata dia, transportasi publik ini ramah lingkungan dan dapat menjadi destinasi pariwisata baru bagi kawasan dengan kontur pegunungan. Terlebih, hal itu sudah berhasil diterapkan di berbagai negara.
“Hal ini sudah dikembangkan, bagaimana cable car yang ramah lingkungan memiliki sensasi yang berbeda karena di destinasi pegunungan di luar negeri juga menggunakan cable car,” kata dia.

“Untuk skema rekayasa lalu lintas, Kemenkraf akan berkoordinasi dengan Korlantas Polri,” imbuhnya.
Usulan Sandi pun diamini, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan. Proyek itu diprediksi menelan dana Rp 7,3 triliun.
Direktur Prasarana BPTJ Jumardi menyebut kajian itu dilakukan untuk mencari solusi mengurai kemacetan di kawasan Puncak, sehingga BPTJ merekomendasikan kombinasi kereta Automated Guideway Transit (AGT) dan kereta gantung.
Dari jumlah Rp 7,31 triliun, sambung Jumardi terbagi atas pembiayaan pembangunan kereta AGT sebesar Rp 6,32 triliun dan kereta gantung hampir Rp 1 triliun. Namun dengan anggaran sebesar itu, Jumardi menjelaskan belum termasuk pembebasan lahan, dengan perkirakan membutuhkan sekitar Rp 693 triliun.
Jumardi menerangkan, panjang lintasan kedua kereta tersebut mencapai 27,88 kilometer. Dengan 23,40 kilometer yang menghubungkan Sentul City-Taman Safari, serta 4,48 kilometer menghubungkan Taman Safari-Puncak.
“Keseluruhan panjang lintasan angkutan berbasis rel tersebut menurut hasil kajian adalah 27,88 km dengan terbagi dalam 2 segmen. Segmen I antara Sentul City-Taman Safari sepanjang 23,40 km menggunakan moda Kereta AGT. Sedangkan segmen II adalah antara Taman Safari-Puncak sepanjang 4,48 km di mana segmen ini baru menggunakan kereta gantung,” ujarnya, kepada wartawan, Senin (21/3/2020).
Namun, proyek itu masih memerlukan pendalaman. Terutama aspek pembiayaan, dampak sosial, dan koordinasi antarlembaga.
“Kelanjutan opsi pembangunan transportasi massal berbasis rel di Kawasan Puncak masih perlu proses pendalaman baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Aspek yang perlu perhatian mendalam selain besarnya kebutuhan pembiayaan juga penanganan permasalahan dampak sosial dan koordinasi antarkelembagaan,” tukasnya. (B. Supriyadi)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















