BOGOR-TODAY.COM – Peristiwa kebakaran hutan di Chili yang menewaskan 23 orang membuat pemerintah setempat memperluas kewaspadaannya dengan meningkatkan status siaga.
Pemerintah Chili mengumumkan meninngkatkan status siaga mencangkup wilayah selatan Araucania, di sebelah wilayah Biobio dan Nuble yang yang terletak di dekat garis pantai Pasifik panjang negara Amerika Selatan.
Tindakan tersebut memungkinkan pemerintah Chili untuk memobilisasi militer untuk membantu memadamkan kebakaran hutan itu.
“Kondisi cuaca membuat sulit petugas untuk memadamkan kebakaran yang menyebar dan membuat kaeadaan semakin darurat dan memburuk,” kata Menteri Dalam Negeri, Carolina Toha di ibu kota Chili keapda wartawan seperti mengutip dari halaman Aljazeera.com.
Sedikitnya 23 orang tewas dalam kebakaran hutan tersebut, sementara 979 dilaporkan terluka. Lebih dari 1.100 telah mencari perlindungan di tempat penampungan.
“Sekitar 11 korban, atau hampir setengah dari mereka yang dilaporkan tewas sejauh ini, meninggal di kota Santa Juana di Biobio, yang terletak sekitar 500 km (310 mil) selatan Santiago,” katanya.
Kematian juga termasuk seorang pilot Bolivia yang tewas ketika sebuah helikopter yang membantu memadamkan kobaran api jatuh di Araucania. Seorang mekanik Chili juga tewas dalam kecelakaan itu.
Sekitar 232 kebakaran hutan masih barlasngung hingga hari ini. Menurut pihak berwenang, 16 pemicu kebakaran hutan ini terus berlasngung salah satunya suhu di lokasi saat ini belahan bumi selatan tengah musim melebihi 40C.
Badan mitigasi bencana Chili mengatakan, sekitar 151 kebakaran hutan sudah dapat dikendalikan, sementara data resmi yang dirilis Jumat malam menunjukkan bahwa sekitar 40.000 hektar sampai 99.000 hektar telah terbakar oleh api.
Tiga daerah yang terkena dampak kebakaran hutan diantaranya wilayah penduduk yangkesehariannya bekerja sebagai petani, seperti petani anggur, apel, dan petani buah beri yang kesemua buah-buahan itu untuk ekspor.
Para pejabat pemerintah Spanyol, Amerika Serikat, Argentina, Ekuador, Brasil, dan Venezuela telah menawarkan bantuan, termasuk pesawat dan petugas pemadam kebakaran untuk memerangi kebakaran hutan itu.
Toha, menteri dalam negeri Chili mengatakan, kebakaran hutan itu harus menjadi peringatan tentang efek perubahan iklim.
“Kita menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap kebakaran. Pada dasarnya, karena evolusi perubahan iklim,” katanya.
Pada hari Jumat kemarin, Presiden Gabriel Boric mempersingkat liburan musim panasnya dan melakukan perjalanan ke Nuble dan Biobio Chili, berjanji untuk memastikan daerah yang terkena dampak menerima semua bantuan yang diperlukan.
Boric beranggapan, kebakaran hutan yang terjadi di Chilki ini, tidak hanya bencana alam tetapi sesuatu yang disengaja. Sayangnya, Boric tidak memberikan rincian mengenai statemennya itu. (*)
Bagi Halaman
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















