1221767_20130116115357JAKARTA TODAY – Pada Mei 2016 lalu, PT PLN (Per­sero) membatalkan lelang PLTU Jawa 5 yang rencanan­ya dibangun di Serang, Banten, dengan kapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW). PLTU Jawa 5 merupakan pembangkit terbesar dalam proyek 35.000 MW, setara dengan PLTU Batang.

Lelang sudah menca­pai tahap akhir, tinggal ter­sisa 2 calon dan PLN tinggal menunjuk pemenang. Tapi, Direksi PLN memutuskan membatalkan lelang pen­gadaan tersebut.

Kini PLN berencana menunjuk anak usahanya untuk membangun PLTU Jawa 5. Ada 2 anak usaha PLN yang berpeluang ditun­juk, yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan PT Indo­nesia Power.

Opsi ini dipertimbang­kan PLN, karena tender ulang akan memakan waktu yang sangat panjang, pem­bangunan PLTU Jawa 5 bisa molor sampai lebih dari 1 tahun. Lelang ulang saja su­dah memakan waktu 8 bu­lan, belum lagi menunggu pemenang lelang mendapat pembiayaan (financial clos­ing).

Kalau PLN langsung menunjuk PJB atau Indo­nesia Power tanpa lelang ulang, jadwal konstruksi PLTU Jawa 5 bisa dikejar. PLTU Jawa 5 pun bisa sele­sai dalam waktu sekitar 4 ta­hun, dan mulai beroperasi di 2019 atau 2020.

“Kalau kita tender prosesnya 8 bulan, kemu­dian menunggu financial closing 12 bulan lagi, pa­dahal kan target selesai di 2019-2020. Untuk itu dipertimbangkan anak usaha PLN, bisa PJB atau Indonesia Power, beker­jasama dengan swasta su­paya prosesnya bisa lebih cepat,” kata Direktur Pen­gadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso, saat ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (12/7/2016).

Tapi anak usaha PLN tak akan sendirian karena pembangunan PLTU Jawa 5 butuh dana sangat besar, diperkirakan mencapai Rp 30 triliun. Anak usaha PLN akan bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk membangun pembangkit 2.000 MW ini.

Iwan memberi sinyal ti­dak akan menggandeng pe­rusahaan dari China untuk pembangunan PLTU Jawa 5 ini. “Di Jawa Bagian Barat ini kan sudah didominasi oleh pembangkit-pembang­kit China, diharapkan nanti dari Jepang atau Eropa. Lo­kal pun banyak yang mau juga, kalau bisa lokal lebih bagus,” dia menuturkan.

Iwan yakin anak usaha PLN dan swasta yang di­gandeng tak akan kesulitan untuk mencari dana pem­bangunan PLTU Jawa 5. “Masalah pendanaan, dana itu bisa dari mana saja,” tu­tupnya.

Sekedar informasi, pembangunan PLTU Jawa 5 direncanakan sejak tahun 2014 saat PLN masih dip­impin oleh Nur Pamudji, dan sudah masuk dalam RUPTL 2016-2025. Calon pembangkit terbesar di Asia Tenggara ini ditujukan un­tuk menghindarkan Pulau Jawa dari ancaman krisis lis­trik di 2019.

Rencananya PLTU Jawa 5 sudah mulai konstruksi akhir 2016. Dalam RUPTL, PLTU Jawa 5 dijadwalkan bisa mulai beroperasi penuh dan memasok listrik (Com­mercial Operation Date/ COD) di 2019.

Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, pernah men­gungkapkan alasannya membatalkan lelang. Dia menilai bahwa kontraktor-kontraktor calon pemenang lelang kurang meyakinkan, kurang pas. Keraguan inilah yang membuat pihaknya memilih untuk membatal­kan lelang.

“Dibatalkan kalau lelang PLTU Jawa 5. Kalau anda bosnya, kontraktornya anda tahu nggak pas, menurut anda baiknya dijalankan atau dibatalkan?” kata So­fyan, beberapa waktu lalu. (Abdul Kadir Basalamah)

loading...